Sejak
perjumpaan itu, Carly sangat sadar akan kehancuran yang menghampirinya. Ia
mensyukuri perjumpaan terkutuk itu. Perjumpaan yang meletakkan hatinya di
antara dua wanita. Baginya, mereka serupa dua lilin yang bersinar cemerlang.
Dan ia terkatung-katung di antara keduanya.
Perempuan itu masih secantik dulu.
Matanya bersinar dan senyumnya teduh. Ia
berparas elok dan memiliki keanggunan yang alami. Waktu masih muda,
orang berebutan memberinya julukan: Aphrodite, Putri Salju, Si Cantik dari
Paris. Carly lebih suka memberinya nama Malaikat dari Barcelona.
Perempuan yang cantik dan anggun.
Dan karena perempuan itu, Carly kembali menemukan gairah untuk hidup. Dulu,
perempuan itulah ibunya, hidupnya dan cinta pertamanya.
Perempuan
itu menyediakan baginya tempat berteduh membasuh peluh.
Jika
Carly lelah, ia merelakan pundaknya untuk bersandar. Jika ia tertatih-tatih,
perempuan itu memberinya sayap untuk terbang. Dia tidak pernah merasa
terbebani, bahkan selalu memberikan senyumnya yang menawan. Kadang perempuan
itu menghadiahkan pelukan hangat dan kecupan kening yang mesrah.
Carly
merasa perempuan itulah yang mengajarinya cara hidup. Memberinya semangat. Dan
mengajarinya cinta.
Mereka
saling jatuh cinta. Carly jatuh cinta pada malaikatnya. Dan perempuan itu
menaruh hati padanya. Mereka bahagia.
Namun
dunia tak merestui cinta mereka. Perempuan itu terpaksa menikah dengan pria
pilihan orang tuanya. Carly frustasi. Untunglah, seorang perempuan lain
berhasil menolongnya dan kemudian menjadi isterinya.
Carly
dan malaikatnya berpisah. Mungkin saja perpisahan itu mencuri kebahagiaan
mereka. Tapi tidak dengan cinta mereka. Dan di sinilah mereka kembali bertemu.
Di pendopo timur Gua Maria Golo Lantar. Tempat mereka dulu berpisah.
Setiap perjumpaan, memulangkan kita
pada kenangan. Bagi Carly dan malaikatnya, kenangan itu adalah senja di puncak
Golo Lantar.
Sebelum berpisah, mereka kerap
menghabiskan waktu di sini.
“Suatu hari nanti, kamu akan temukan
senja yang lebih indah daripada senja di bukit ini.” kata perempuan itu.
“Semua orang bisa saja katakan bahwa
senja terbaik bukanlah senja yang kau saksikan dari sini. Tapi ada satu hal
yang perlu kamu tahu,” Carly membiarkan kalimatnya mengambang di udara.
“Apa itu?”
“Jika Tuhan ingin menyeruput kopi
sore-Nya, Ia kerap melakukannya di sini.”
“Tidak lucu.” Perempuan itu mencubit
lengan Carly. Manja.
“Di
manakah Ia biasa duduk?” Tanya perempuan itu lagi.
“Tepat
di sampingmu.”
Senja
itu indah. Semilir angin yang basah mempermainkan bunga-bunga di sekitar
mereka. Kawanan merpati beterbangan di atap pendopo. Gumpalan-gumpalan awan
putih menutupi lembah di bawah sana. Di timur, pelangi melengkung mengatasi
awan. Sementara di barat, senja menguning di kaki langit.
“Pelangi
itu indah ya ...” Perempuan itu mengarahkan telunjuknya ke arah timur. Ia
tersenyum, menyandarkan kepala di bahu kekasihnya itu.
“Ibu
bilang, pelangi adalah tangga para dewi khayangan yang turun mandi di bumi.”
“Waktu
aku kecil, ayah berkisah bahwa para bidadari sering mandi di bumi. Setelah
mandi, mereka menjemur selendang di langit. Dan itulah pelangi.”
“Hahahaha
kisah yang indah” Carly tertawa riang. Perempuan itu tersenyum bahagia.
“Cerita-cerita
seperti itu muncul karena keterbatasan mereka menerangkan sebab-sebab dari
gejala alam.”
“Hahahaha
kamu baik-baik saja, kan?” Carly tertawa lagi. Kali ini tanpa disertai senyum
perempuan itu. Carly menempelkan punggung tangannya di dahi perempuan itu.
“Kenapa?”
“Kamu
filosofis sekali.”
“Hahaha
karena hidup itu hanya perkara bagaimana kita berfilsafat tentangnya.”
Sementara
mereka duduk berjuntai kaki di pendopo itu, sinar surya perlahan mulai
tenggelam. Carly meraih gitar dan memainkan melodi-melodi cinta.
Gumpalan-gumpalan awan mulai naik ke lereng gunung. Senja sudah pudar, malam
datang membayang.
Di
selah-selah melodi gitar yang mengalun lembut, azan magrib berkumandang
membelah angkasa. Semuanya terasa begitu sempurna.
“Kau
tahu kenapa Tuhan kerap menghabiskan senja di bukit ini?” Tanya Carly sambil
memetik gitar.
“Kenapa?”
“Karena
di sinilah ia pertama kali mendengarkan Azan Magrib yang berpaduh dengan Kidung
Pujian Maria.”
“Apakah
itu direncanakan?”
“Sama
sekali tidak. Dulu ada sepasang kekasih yang sering menghabiskan senja di sini.
Seorang pria dengan rosario di tangannya dan kekasihnya seorang muslimah yang
selalu mengenakan hijab biru.”
“Ada
apa dengan mereka?” Tanya perempuan itu penasaran.
“Saat
senja tiba, pria itu berlutut di depan patung itu dan mendaraskan Kidung Pujian
Maria. Sementara itu kekasihnya berdiri menunggu sambil mendengarkan azan yang
berkumandang dari masjid di sebelah barat lapangan bola di bawah sana.”
“Hahaha
dan Tuhan duduk di sini menyaksikan adegan itu sambil memegang segelas kopi?”
“Tepat
seperti itu. Saat itulah Ia, untuk pertama kali mendengarkan perpaduan sempurna
itu. Kidung Maria, azan magrib dan senja di kaki langit.”
“Selanjutnya
apa yang terjadi dengan pasangan kekasih itu?” Perempuan itu semakin penasaran.
Ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Carly. Pria itu merengkuh pundaknya. Hangat.
Masyarakat
kampung di kaki bukit itu sudah beristirahat dari aktifitas harian mereka.
Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan. Sekawanan merpati yang tadi menemani
mereka, sudah kembali ke kandang yang berjejer di bagian belakang gua. Yang
tertinggal hanya mereka dua. Bertiga dengan Gua Maria, berempat dengan sepih.
“Seperti
yang akan kita alami.” Jawab Carly sedih.
“Maksudmu,
mereka berpisah karena muslimah berhijab biru itu dipaksa menikah dengan pria
pilihan orang tuanya?”
“Tepatnya,
tidak seperti itu. Pria itu memutuskan untuk menjadi pastor katolik. Muslimah
itu mendukung pilihan kekasihnya dan memutuskan untuk membawa pergi semua
kenangan mereka.”
“Ah
... betapa kejamnya perpisahan.” Wanita itu meneteskan air mata. Dia
membayangkan perpisahan yang harus mereka jalani. Dia tak kuasa menolak
permintaan kedua orang tuanya untuk menikah dengan anak laki-laki dari saudari
sepupu ayahnya. Supaya hubungan keluarga jangan terputus, kata ayahnya.
“Tergantung.”
Carly mencoba menghibur. Ia menghapus air mata kekasihnya dengan ibu jari
tangan kanan.
“Maksudmu?”
“Bukan
perpisahan itu yang menentukan langkah kita. Tetapi reaksi kita terhadap
perpisahan yang kita alami.”
“Carly,
apakah kau mengikhlaskan perpisahan ini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Dunia
ini bertahan karena keseimbangan antara dua hal yang berlawanan. Baik dan
jahat. Siang dan malam. Senang dan susah. Jumpa dan pisah.”
“Lalu?”
“Setiap
perjumpaan pasti diakhiri oleh perpisahan.”
“Semua
orang tahu itu. Basi.”
“Perjumpaan
pertama kita indah.”
“Iya.
Saya tahu itu.” Perempuan itu semakin merapatkan tubuhnya.
“Dunia
memisahkan kita supaya kita bisa mengulangi perjumpaan yang indah itu.”
Hari
sudah malam. Di sekitar mereka tidak ada siapa-siapa lagi. Carly menggenggam
erat tangan kekasihnya, menuntunnya menuruni bukit dan mengantarnya pulang ke
rumah. Sebelum perempuan itu masuk rumah, ia memeluknya erat, mengecup
keningnya dan mengucapkan selamat tinggal.
Sesuatu
menusuk ulu hatinya.
***
Golo
Lantar, bukit kenangan yang teramat tampan, menjulang sampai ke surga impian,
membentang ke punjuru ingatan, ke cakrawala kasmaran. Bukit ini bukan saja
indah, tapi juga menyimpan banyak cerita. Bukan hanya kisah tentang Carly dan
malaikatnya atau muslimah berhijab biru dengan kekasihnya. Tetapi juga ada
kisah-kisah lain tentang manusia misalnya tentang seorang pria sahaja yang
memetik daun tembakau di lereng bukit setiap jam lima sore atau seorang ibu
yang selalu menangis di depan Arca Bunda Agung memohon perlindungan bagi
anaknya yang menginjak masa-masa remaja. Semua itu adalah cerita.
Mungkin
saja kisah tentang Carly dan malaikatnya bukanlah kisah yang paling dramatis.
Akan tetapi mereka sudah memberikan makna lain pada cinta dan perpisahan.
Mungkin
saja mereka pernah menelan pahitnya kehilangan, tapi cinta mereka sudah
diabadikan dalam hitungan detik terbenamnya matahari.
Dan
di sanalah mereka kembali bersua dengan cinta dan kerinduan yang sama. Kini
mereka sudah menjadi dua manusia yang hidup di penghujung masa dewasa. Mereka
juga telah mengukir kisah dengan orang-orang yang berbeda. Orang-orang yang pada
akhirnya mereka cintai.
Carly
menikahi seorang wanita hebat. Wanita yang bukan saja cantik, tetapi juga
mendekati kesempurnaan untuk menjadi seorang isteri dan ibu ideal. Wanita itu
melahirkan baginya tiga orang anak.
Sedangkan
malaikatnya itu akhirnya bahagia dengan pria pilihan orang tuanya. Mereka
dikaruniai dua orang putri yang cantik. Suaminya bukan saja hebat dan sukses,
tetapi juga sempurna dalam menjalani peran hidup sebagai kepala keluarga,
suami, ayah dan sahabat.
Akan
tetapi di sinilah mereka berjumpa setelah bertahun-tahun berpisah. Di remang
senja Puncak Golo Lantar. Tentu saja masih seindah dulu. Golo Lantar dengan Gua
Maria, azan magrib dan senja di kaki langit.
“Bagaimana
kabar keluargamu?” Tanya perempuan itu.
“Semuanya
baik-baik saja. Kamu?”
“Aku
baik-baik saja. Kami bahagia.”
“Aku
senang mendengarnya.”
Senja
itu indah. Semilir angin yang basah mempermainkan bunga-bunga di sekitar
mereka. Kawanan merpati beterbangan di atap pendopo. Gumpalan-gumpalan awan
putih menutupi lembah di bawah sana. Di timur, pelangi melengkung mengatasi
awan. Sementara di barat, senja menguning di kaki langit.
“Bukit
ini masih seindah dulu ya ...” Kata perempuan itu.
“Segala
sesuatu di sini dijadikannya abadi.”
“Juga
kisah tentang kita?” Tanya perempuan itu sedikit canggung.
“Iya.
Bukit ini telah membuat kita berjumpa untuk kedua kalinya.”
“Tapi
aku takut.”
“Takut
apa?” Tanya Carly penasaran. Sesekali ia memperhatikan telepon genggamnya.
“Dulu
kita pernah menitipkan cinta kita pada matahari yang hendak tenggelam. Namun
musim sudah berubah menjadi tak menentu. Saya takut, suatu hari nanti senja tak
lagi mampu mengabadikan cinta dan cerita tentang kita.”
“Lalu?”
“Aku
ingin mengabadikannya dengan sesuatu yang lebih indah dan lebih mulia dari
senja yang dapat kau saksikan dari puncak bukit ini.”
Segumpal
awan pekat menyelimuti hati pria beranak tiga itu. Rasa takut menguasai
hatinya. Namun ia memberanikan diri bertanya.
“Apa
itu?”
“Aku
menginginkan seorang anak darimu.”
Carly
telah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Dia mengalami dilema batin yang
hebat: terkatung-katung di antara dua hati perempuan. Antara lilin-lilin yang
benderang. Lilin dari masa lalu yang tak pernah padam dan lilin yang rela
meleleh demi hidupnya, sepanjang waktu.
Sejak
awal perjumpaan itu, dia sudah membayangkan kehancuran ini. Apa boleh buat.
Setiap orang berhak memperjuangkan cintanya, walaupun terlambat.
Senja
memudar. Kegelapan malam mulai mendaki bukit itu, menggelitik kaki-kaki mereka
yang telanjang. Carly menggenggam erat tangan perempuan itu dan sesekali
meliriknya. Perempuan itu masih secantik dulu.

Kren tuang๐๐
BalasHapusterima kasih.
HapusMantap kae๐๐
BalasHapusterima kasih
HapusKeren kk
BalasHapus