Langsung ke konten utama

Cerpen Tomi Duang | Malaikat dari Barcelona

 


Sejak perjumpaan itu, Carly sangat sadar akan kehancuran yang menghampirinya. Ia mensyukuri perjumpaan terkutuk itu. Perjumpaan yang meletakkan hatinya di antara dua wanita. Baginya, mereka serupa dua lilin yang bersinar cemerlang. Dan ia terkatung-katung di antara keduanya. 

            Perempuan itu masih secantik dulu. Matanya bersinar dan senyumnya teduh. Ia  berparas elok dan memiliki keanggunan yang alami. Waktu masih muda, orang berebutan memberinya julukan: Aphrodite, Putri Salju, Si Cantik dari Paris. Carly lebih suka memberinya nama Malaikat dari Barcelona.

            Perempuan yang cantik dan anggun. Dan karena perempuan itu, Carly kembali menemukan gairah untuk hidup. Dulu, perempuan itulah ibunya, hidupnya dan cinta pertamanya.

Perempuan itu menyediakan baginya tempat berteduh membasuh peluh.

Jika Carly lelah, ia merelakan pundaknya untuk bersandar. Jika ia tertatih-tatih, perempuan itu memberinya sayap untuk terbang. Dia tidak pernah merasa terbebani, bahkan selalu memberikan senyumnya yang menawan. Kadang perempuan itu menghadiahkan pelukan hangat dan kecupan kening yang mesrah.

Carly merasa perempuan itulah yang mengajarinya cara hidup. Memberinya semangat. Dan mengajarinya cinta.

Mereka saling jatuh cinta. Carly jatuh cinta pada malaikatnya. Dan perempuan itu menaruh hati padanya. Mereka bahagia.

Namun dunia tak merestui cinta mereka. Perempuan itu terpaksa menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Carly frustasi. Untunglah, seorang perempuan lain berhasil menolongnya dan kemudian menjadi isterinya.

Carly dan malaikatnya berpisah. Mungkin saja perpisahan itu mencuri kebahagiaan mereka. Tapi tidak dengan cinta mereka. Dan di sinilah mereka kembali bertemu. Di pendopo timur Gua Maria Golo Lantar. Tempat mereka dulu berpisah.

            Setiap perjumpaan, memulangkan kita pada kenangan. Bagi Carly dan malaikatnya, kenangan itu adalah senja di puncak Golo Lantar.

            Sebelum berpisah, mereka kerap menghabiskan waktu di sini.

            “Suatu hari nanti, kamu akan temukan senja yang lebih indah daripada senja di bukit ini.” kata perempuan itu.

            “Semua orang bisa saja katakan bahwa senja terbaik bukanlah senja yang kau saksikan dari sini. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu,” Carly membiarkan kalimatnya mengambang di udara.

            “Apa itu?”

            “Jika Tuhan ingin menyeruput kopi sore-Nya, Ia kerap melakukannya di sini.”

            “Tidak lucu.” Perempuan itu mencubit lengan Carly. Manja.

“Di manakah Ia biasa duduk?” Tanya perempuan itu lagi.

“Tepat di sampingmu.”

Senja itu indah. Semilir angin yang basah mempermainkan bunga-bunga di sekitar mereka. Kawanan merpati beterbangan di atap pendopo. Gumpalan-gumpalan awan putih menutupi lembah di bawah sana. Di timur, pelangi melengkung mengatasi awan. Sementara di barat, senja menguning di kaki langit.

“Pelangi itu indah ya ...” Perempuan itu mengarahkan telunjuknya ke arah timur. Ia tersenyum, menyandarkan kepala di bahu kekasihnya itu.

“Ibu bilang, pelangi adalah tangga para dewi khayangan yang turun mandi di bumi.”

“Waktu aku kecil, ayah berkisah bahwa para bidadari sering mandi di bumi. Setelah mandi, mereka menjemur selendang di langit. Dan itulah pelangi.”

“Hahahaha kisah yang indah” Carly tertawa riang. Perempuan itu tersenyum bahagia.

“Cerita-cerita seperti itu muncul karena keterbatasan mereka menerangkan sebab-sebab dari gejala alam.”

“Hahahaha kamu baik-baik saja, kan?” Carly tertawa lagi. Kali ini tanpa disertai senyum perempuan itu. Carly menempelkan punggung tangannya di dahi perempuan itu.

“Kenapa?”

“Kamu filosofis sekali.”

“Hahaha karena hidup itu hanya perkara bagaimana kita berfilsafat tentangnya.”

Sementara mereka duduk berjuntai kaki di pendopo itu, sinar surya perlahan mulai tenggelam. Carly meraih gitar dan memainkan melodi-melodi cinta. Gumpalan-gumpalan awan mulai naik ke lereng gunung. Senja sudah pudar, malam datang membayang.

Di selah-selah melodi gitar yang mengalun lembut, azan magrib berkumandang membelah angkasa. Semuanya terasa begitu sempurna.

“Kau tahu kenapa Tuhan kerap menghabiskan senja di bukit ini?” Tanya Carly sambil memetik gitar.

“Kenapa?”

“Karena di sinilah ia pertama kali mendengarkan Azan Magrib yang berpaduh dengan Kidung Pujian Maria.”

“Apakah itu direncanakan?”

“Sama sekali tidak. Dulu ada sepasang kekasih yang sering menghabiskan senja di sini. Seorang pria dengan rosario di tangannya dan kekasihnya seorang muslimah yang selalu mengenakan hijab biru.”

“Ada apa dengan mereka?” Tanya perempuan itu penasaran.

“Saat senja tiba, pria itu berlutut di depan patung itu dan mendaraskan Kidung Pujian Maria. Sementara itu kekasihnya berdiri menunggu sambil mendengarkan azan yang berkumandang dari masjid di sebelah barat lapangan bola di bawah sana.”

“Hahaha dan Tuhan duduk di sini menyaksikan adegan itu sambil memegang segelas kopi?”

“Tepat seperti itu. Saat itulah Ia, untuk pertama kali mendengarkan perpaduan sempurna itu. Kidung Maria, azan magrib dan senja di kaki langit.”

“Selanjutnya apa yang terjadi dengan pasangan kekasih itu?” Perempuan itu semakin penasaran. Ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Carly. Pria itu merengkuh pundaknya. Hangat.

Masyarakat kampung di kaki bukit itu sudah beristirahat dari aktifitas harian mereka. Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan. Sekawanan merpati yang tadi menemani mereka, sudah kembali ke kandang yang berjejer di bagian belakang gua. Yang tertinggal hanya mereka dua. Bertiga dengan Gua Maria, berempat dengan sepih.

“Seperti yang akan kita alami.” Jawab Carly sedih.

“Maksudmu, mereka berpisah karena muslimah berhijab biru itu dipaksa menikah dengan pria pilihan orang tuanya?”

“Tepatnya, tidak seperti itu. Pria itu memutuskan untuk menjadi pastor katolik. Muslimah itu mendukung pilihan kekasihnya dan memutuskan untuk membawa pergi semua kenangan mereka.”

“Ah ... betapa kejamnya perpisahan.” Wanita itu meneteskan air mata. Dia membayangkan perpisahan yang harus mereka jalani. Dia tak kuasa menolak permintaan kedua orang tuanya untuk menikah dengan anak laki-laki dari saudari sepupu ayahnya. Supaya hubungan keluarga jangan terputus, kata ayahnya.

“Tergantung.” Carly mencoba menghibur. Ia menghapus air mata kekasihnya dengan ibu jari tangan kanan.

“Maksudmu?”

“Bukan perpisahan itu yang menentukan langkah kita. Tetapi reaksi kita terhadap perpisahan yang kita alami.”

“Carly, apakah kau mengikhlaskan perpisahan ini?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Dunia ini bertahan karena keseimbangan antara dua hal yang berlawanan. Baik dan jahat. Siang dan malam. Senang dan susah. Jumpa dan pisah.”

“Lalu?”

“Setiap perjumpaan pasti diakhiri oleh perpisahan.”

“Semua orang tahu itu. Basi.”

“Perjumpaan pertama kita indah.”

“Iya. Saya tahu itu.” Perempuan itu semakin merapatkan tubuhnya.

“Dunia memisahkan kita supaya kita bisa mengulangi perjumpaan yang indah itu.”

Hari sudah malam. Di sekitar mereka tidak ada siapa-siapa lagi. Carly menggenggam erat tangan kekasihnya, menuntunnya menuruni bukit dan mengantarnya pulang ke rumah. Sebelum perempuan itu masuk rumah, ia memeluknya erat, mengecup keningnya dan mengucapkan selamat tinggal.

Sesuatu menusuk ulu hatinya.

 

***

 

Golo Lantar, bukit kenangan yang teramat tampan, menjulang sampai ke surga impian, membentang ke punjuru ingatan, ke cakrawala kasmaran. Bukit ini bukan saja indah, tapi juga menyimpan banyak cerita. Bukan hanya kisah tentang Carly dan malaikatnya atau muslimah berhijab biru dengan kekasihnya. Tetapi juga ada kisah-kisah lain tentang manusia misalnya tentang seorang pria sahaja yang memetik daun tembakau di lereng bukit setiap jam lima sore atau seorang ibu yang selalu menangis di depan Arca Bunda Agung memohon perlindungan bagi anaknya yang menginjak masa-masa remaja. Semua itu adalah cerita.

Mungkin saja kisah tentang Carly dan malaikatnya bukanlah kisah yang paling dramatis. Akan tetapi mereka sudah memberikan makna lain pada cinta dan perpisahan.

Mungkin saja mereka pernah menelan pahitnya kehilangan, tapi cinta mereka sudah diabadikan dalam hitungan detik terbenamnya matahari.

Dan di sanalah mereka kembali bersua dengan cinta dan kerinduan yang sama. Kini mereka sudah menjadi dua manusia yang hidup di penghujung masa dewasa. Mereka juga telah mengukir kisah dengan orang-orang yang berbeda. Orang-orang yang pada akhirnya mereka cintai.

Carly menikahi seorang wanita hebat. Wanita yang bukan saja cantik, tetapi juga mendekati kesempurnaan untuk menjadi seorang isteri dan ibu ideal. Wanita itu melahirkan baginya tiga orang anak.

Sedangkan malaikatnya itu akhirnya bahagia dengan pria pilihan orang tuanya. Mereka dikaruniai dua orang putri yang cantik. Suaminya bukan saja hebat dan sukses, tetapi juga sempurna dalam menjalani peran hidup sebagai kepala keluarga, suami, ayah dan sahabat.

Akan tetapi di sinilah mereka berjumpa setelah bertahun-tahun berpisah. Di remang senja Puncak Golo Lantar. Tentu saja masih seindah dulu. Golo Lantar dengan Gua Maria, azan magrib dan senja di kaki langit.

“Bagaimana kabar keluargamu?” Tanya perempuan itu.

“Semuanya baik-baik saja. Kamu?”

“Aku baik-baik saja. Kami bahagia.”

“Aku senang mendengarnya.”

Senja itu indah. Semilir angin yang basah mempermainkan bunga-bunga di sekitar mereka. Kawanan merpati beterbangan di atap pendopo. Gumpalan-gumpalan awan putih menutupi lembah di bawah sana. Di timur, pelangi melengkung mengatasi awan. Sementara di barat, senja menguning di kaki langit.

“Bukit ini masih seindah dulu ya ...” Kata perempuan itu.

“Segala sesuatu di sini dijadikannya abadi.”

“Juga kisah tentang kita?” Tanya perempuan itu sedikit canggung.

“Iya. Bukit ini telah membuat kita berjumpa untuk kedua kalinya.”

“Tapi aku takut.”

“Takut apa?” Tanya Carly penasaran. Sesekali ia memperhatikan telepon genggamnya.

“Dulu kita pernah menitipkan cinta kita pada matahari yang hendak tenggelam. Namun musim sudah berubah menjadi tak menentu. Saya takut, suatu hari nanti senja tak lagi mampu mengabadikan cinta dan cerita tentang kita.”

“Lalu?”

“Aku ingin mengabadikannya dengan sesuatu yang lebih indah dan lebih mulia dari senja yang dapat kau saksikan dari puncak bukit ini.”

Segumpal awan pekat menyelimuti hati pria beranak tiga itu. Rasa takut menguasai hatinya. Namun ia memberanikan diri bertanya.

“Apa itu?”

“Aku menginginkan seorang anak darimu.”

Carly telah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Dia mengalami dilema batin yang hebat: terkatung-katung di antara dua hati perempuan. Antara lilin-lilin yang benderang. Lilin dari masa lalu yang tak pernah padam dan lilin yang rela meleleh demi hidupnya, sepanjang waktu.

Sejak awal perjumpaan itu, dia sudah membayangkan kehancuran ini. Apa boleh buat. Setiap orang berhak memperjuangkan cintanya, walaupun terlambat.

Senja memudar. Kegelapan malam mulai mendaki bukit itu, menggelitik kaki-kaki mereka yang telanjang. Carly menggenggam erat tangan perempuan itu dan sesekali meliriknya. Perempuan itu masih secantik dulu.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

La'at Natas FC Menjamu IMAMM FC di Lapangan Wairpelit

  Pose bersama setelah pertandingan persahabatan La'at Natas FC menjamu IMAMM (Ikatan Mahasiswa asal Manggarai di Maumere) FC dalam pertandingan persahabatan di lapangan Wairpelit pada 1/05/2023. Pertandingan persahabatan yang diinisiasi oleh Paguyuban fratres SVD asal Manggarai itu berjalan lancar dan dalam suasana persaudaraan yang solid. Pukul 15.30 WITA, wasit utama pertandingan, Bruno Kefi membuka keseluruhan pertandingan dengan memberi arahan dan sekaligus memberi kesempatan para pemain saling bersalaman. Sejak awal pertandingan, para pemain La'at Natas FC berusaha menekan pertahanan IMAMM FC. Pada menit ke-11, Striker La'at Natas, Waldus Nuka berhasil menjebol gawang IMAMM FC dengan tendangan keras di sudut gawang. Gol ini berangkat dari asis manja pemain tengah andalan La'at Natas FC, Smith Sahputra yang memanfaatkan ruang kosong di lini tengah IMAMM FC. Skor kedudukan berubah menjadi 1-0. Tak berselang lama, gelandang La'at Natas, Is patut memanfaatka...

EGO || Puisi Ell Wiwin

sumber: hipwe.com EGO Darah panas meluapkan amarah Ego dapat meremukkan tulang Suara hati menjerit lepas kendali Adakah yang bisa mengenal hatiku?   Kekeringan iman menjadikan orang kesepian Sungai yang berdesir mencoba membasuh diri Siapa yang dapat menepis debu setelah melekat?   Tangisan menjadi hobi baru Rintikan air mata menetes menjadi tak bermakna Ketika waktunya tiba air mata menjadi dingin Hambar rasa dan tawar hati   Kehangatan cinta terlalu jauh untuk dirangkul Memeluk jiwa dalam kerinduan yang tak terelakkan Panas dingin berdesir mengisi hati yang pilu Masihkan Engkau di sana menungguku?   Memelihara cinta di dasar hati dapat mengharumkan jiwa Namun cinta siapa yang masih bisa berakar? Keegoisan mengembangkan cinta yang fana Menaburkan duri di hati orang lain dan memuja diri   Kebaikan dan kesucian bagaikan buruan di tengah hiruk pikuk dunia Menjadikan penglihatan dan pendengaran tajam Setiap oran...

Daftar Anggota Paguyuban Fratres SVD asal Manggarai dan Seksi-seksi Fratres 2022/2023.

Anggota Paguyuban Fratres SVD asal Manggarai Setelah melakukan acara serah terima kepengurusan Fratres SVD Asal Manggarai periode 2021/2022 ke periode 2022/2023 pada beberapa hari lalu, Staf Fratres SVD Asal Manggarai 2022/2023 melakukan dokumentasi nama-nama anggota paguyuban serta pembagian seksi-seksi kepengurusan 2022/2023.   DAFTAR NAMA ANGGOTA PAGUYUBAN FRATRES SVD ASAL MANGGARAI RAYA No Nama Asal Paroki Tingkat 1. Fr. Perseverando Giano Happy Putra St. Gregorius Borong   I 2. Fr. Lorensius Syukur St. Antonius Padua Ri'i I 3. Fr. Oktavianus Edward Metta   St.Vitalis Cewonikit  Ruteng I 4. Fr. Reginaldus Banis St Agustinus Mok.                      ...