Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Bungkam | Cerpen Melki Deni

  Melki Deni | Mahasiswa Semester VI STFK Ledalero Gadis itu membaca kembali obituari ibunya di kamar. Seorang karyawati tua menerka-nerka, seketika gadis itu masuk kamar mandi Pastor, mengambil obituari itu setiap sabtu sore. Gadis itu tidak patut dicurigakan, sementara obituari masih terpampang di kamar mandi Pastor. Gadis itu sudah menyalin teks-teks obituari tersebut. Tapi Pastor itu tidak pernah mencurigai gadis kecil, anak darahnya, dan obituari kekasih gelapnya itu, kecuali gunting kecil. Empat tahun kemudian, Pastor itu baru tahu. *** Gadis itu baru berumur enam belas tahun. Pastor mengadopsi dia sejak masih kecil dari seorang janda. Pastor menceritakan bahwa gadis itu merupakan hasil hubungan gelap seorang sopir angkutan kota dan penjaga toko di kota seberang. Karena prihatin dan kasih sayangnya, pastor mengadopsi dan membesarkan dia. Belasan tahun gadis itu tinggal bersama Pastor itu di beberapa paroki. Sejak kecil gadis itu merindukan sosok sang ayah seperti Pastor...

Luka Pada Tepi Penantian* | Cerpen Bertin Japa

Bertin Japa | Mahasiswa Semester VIII STFK Ledalero   Setahun telah lewat, Fiana seperti seorang penunggu kotak surat. Ia tetap merindukan suara ibunya untuk mengatakan perihal nama ayahnya. Hasrat Fiana untuk mengetahui identitas ayahnya bergejolak seperti burung. Burung perindu, selalu bernyanyi memanggil sang ayah yang tak kunjung kembali. Sungguh bukan fisiknya yang ia dambakan tapi namanya saja, cukup baginya untuk memuaskan kerinduannya. Sejenak ia terhenti pada setapak rembulan yang mungkin saja pernah mencatat nama ayahnya. Tapi semuanya sia-sia sebab rupanya rembulanpun enggan untuk mengatakan kepadanya. Fiana mulai mencurahkan isi hatinya lewat catatan bisu yang sering ia goreskan pada diary kecilnya ”aku rindu suara ayah”, inilah judul yang ia goreskan pada prolog tulisannya. Kalimat per kalimat ia rangkaikan” ayah, sungguh merindukan suaramu, Suara yang membacakan dongeng sampai aku tertidur. Tapi rasa rindu ini seperti cemeti yang membelenggu aku, menyumbat jalan dar...

Cerpen Ryan Tap | Selamat Natal Ibu

Fr. Ryan Tap Svd | Mahasiswa STFK Ledalero  Semester III             Cukup benar bahwa kerinduan selalu menghadirkan air mata. Rasa-rasanya air mata adalah obat yang paling ampuh untuk menawarkan rindu. Hampir tiap kali aku merindukan seorang ibu, air mata itu selalu tumpah berjatuhan, berderai dari sudut ke sudut. Merindukan ibu adalah doaku kepada Tuhan yang belum sempat terkabulkan. Mungkin juga Ia tak akan mengabulkannya. Sebab aku memintanya terlalu membabi-buta. Memintanya dengan kata-kata yang kasar. Hanya itu yang aku sanggup dikala merindukannya terlalu dalam. Air mata selalu saja hadir bila pikiranku sudah menumpuk dan berceceran kata ibu. Entah, mengapa air mataku cukup candu dengan rasa rindu. Jika air mata tak jatuh, hampir pasti aku belum merasakan kelegaan. Sejak aku bayi sampai sekarang aku sudah hidup di panti asuhan ini. Kira-kira 23 tahun, dari awal aku belajar mengucak mata sampai aku mahir mengusapnya d...

Cerpen Tomi Duang | Malaikat dari Barcelona

  Sejak perjumpaan itu, Carly sangat sadar akan kehancuran yang menghampirinya. Ia mensyukuri perjumpaan terkutuk itu. Perjumpaan yang meletakkan hatinya di antara dua wanita. Baginya, mereka serupa dua lilin yang bersinar cemerlang. Dan ia terkatung-katung di antara keduanya.               Perempuan itu masih secantik dulu. Matanya bersinar dan senyumnya teduh. Ia   berparas elok dan memiliki keanggunan yang alami. Waktu masih muda, orang berebutan memberinya julukan: Aphrodite, Putri Salju, Si Cantik dari Paris. Carly lebih suka memberinya nama Malaikat dari Barcelona.             Perempuan yang cantik dan anggun. Dan karena perempuan itu, Carly kembali menemukan gairah untuk hidup. Dulu, perempuan itulah ibunya, hidupnya dan cinta pertamanya. Perempuan itu menyediakan baginya tempat berteduh membasuh peluh. Jika Carly lelah, ia merelakan pundaknya unt...