Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Puisi-puisi Randy Laja

Fr. Randy Laja, berasal dari Paroki Katedral Ruteng                                                   /01/   Kepala Keluarga Perempuan itu Baru-baru ini berumur dua puluh empat tahun Mengenang genggaman terakhir bapaknya Yang pergi di antara kokoh tiang cinta ibunya Dan tegak harapan mereka   Sejak menelan pedih mengunyah duka Telah menjadi kepala keluarga   Seorang pegawai koperasi Dengan gaji yang mengelus dada Seorang pekerja yang gelisah Menanti sebulan enam ratus ribu dari kartu prakerja Setiap hari memberi pungung dibakar garang matahari Agar kompor sekolah adik-adiknya tetap menyala   Tuhan, Apakah menipu untuk sesuatu yang baik Adalah sebuah dosa?   Perempuan itu Baru-baru ini berumur dua puluh empat tahun Mengenang genggaman terakhir bapaknya Dalam sebuah cer...

Antologi Puisi || Chan Setu

Penulis adalah penikmat sastra. Puisi-puisi ini juga pernah ditayangkan diblog pribadinya ruangkopidotblog.wordpress.com   #. Sesudahnya Sesudahnya, aku dan ibu saling berpelukan sambil menukar senyum ibu memberiku air mata dan kuberikan ibu kenangan   Sesudahnya aku dan ibu saling menangis sambil tertawa "kamu cantik dan dewasa, nak" ucap ibu menyekah air mukaku "terima kasih untuk doamu, ibu" kataku sambil melihat bayangan masa kecilku di matanya. #. Pada Waktu Senggang Pada waktu senggang wanita itu duduk sambil berjalan di dalam kepalanya ada banyak kegelisahan di matanya   Pada waktu senggang wanita itu berdiri sambil duduk menghadap tanah dengan rindu di dalam kepalanya ada tangisan di wajahnya   Pada waktu senggang wanita itu tinggal seatap dengan hari sebelum pagi pergi ia meninggalkan siang di dalam pekatnya malam   Pada waktu senggang wanita itu duduk dan menjadi gila di kepalanya  ...

EGO || Puisi Ell Wiwin

sumber: hipwe.com EGO Darah panas meluapkan amarah Ego dapat meremukkan tulang Suara hati menjerit lepas kendali Adakah yang bisa mengenal hatiku?   Kekeringan iman menjadikan orang kesepian Sungai yang berdesir mencoba membasuh diri Siapa yang dapat menepis debu setelah melekat?   Tangisan menjadi hobi baru Rintikan air mata menetes menjadi tak bermakna Ketika waktunya tiba air mata menjadi dingin Hambar rasa dan tawar hati   Kehangatan cinta terlalu jauh untuk dirangkul Memeluk jiwa dalam kerinduan yang tak terelakkan Panas dingin berdesir mengisi hati yang pilu Masihkan Engkau di sana menungguku?   Memelihara cinta di dasar hati dapat mengharumkan jiwa Namun cinta siapa yang masih bisa berakar? Keegoisan mengembangkan cinta yang fana Menaburkan duri di hati orang lain dan memuja diri   Kebaikan dan kesucian bagaikan buruan di tengah hiruk pikuk dunia Menjadikan penglihatan dan pendengaran tajam Setiap oran...

Antologi Puisi || Herlin Nadut

Hampa Menua Tak ada suara yg menyahut d i langit Hampa menua terasa dijiwa Semuanya piluh penuh membisu   Tak tenang rindu mengalun Mengokohkan hening dalam kesendirian   Aku yang adalah jiwa penyendiri Merebahkan tubuhku pada bahu pilu Menyandarkan kehampaanku pada langit berlapis gelap Karena dalam kesendirianku tak ada yang menemani   Kini malamku hanya mengokohkan hening Tanpa runding yang merundingnya Semuanya kosong tanpa sua Tanpa saling mendekat yang menjauh (Bent e ng, 18 April 2021)   Sahabat Malam   Kembali ku bergurau pada malam merajut bersamanya dalam gubatan nuansa melodi hening Merapal disetiap Kata dalam nama rindu Yang akan menjadi teman untuk bersemi   Aku yang adalah teman sejatinya si malam Berbincang menukar logika kami lewat rembulan yang menyinar canda kami Senyum bahagia menopang gurau kami   Langit yang adalah menjadi Saksi gurau aku dan malam Memanjakan daku dalam d...

Wanita Terluka || Puisi Yohanes Rudin

sumber gambar: cikimm. com   Dalam kesunyian dan kebisuan nestapa seorang wanita tua menangis sedih dan pedih. Ia menangis bukan karena merasa galau, Bukan pula karena diejek kaum asing Dia menangis karena hatinya terluka Terluka oleh tusukan pisau kekuasaan anaknya yang terlahir dari dalam rahimnya sendiri. Hatinya terluka parah karena ulah tak bertanggung jawab anaknya yang memegang kekuasaan. **** Hati wanita tua itu sudah terluka Ia meratapi lukanya dalam kebisuaan tak berdaya. Tak ada insan yang mempedulikannya Kini air matanya terus menetes di pipinya yang kian hari kian keriput. Tubuhnya tak sanggup berdiri dengan tegak Kaki penyanggah sudah pada rapuh dan keropos. Hidup terombang ambing bagai perahu cadik diterpa taupan ganas Kulit pembalut tubuhnya kian hari kian menipis terbakar panas sinar matahari. Pohon bermahkota hijau tempat berlindung kini berguguran satu per satu ditimpa bencana. Rambutnya yang kusam semakin rapuh dan rontok tak ...

Kurban || Puisi Maria Chey

  Di atas altar-Nya, Kau suguhkan doa paling mulia Kepada yang menjadikanmu ada Teruntuk yang buatmu mencinta   Darasan harapan kau nyanyikan, Meminta restu untuk doa yang terucap Sambil mencampur anggur dan air dalam bejana Kau selip sebuah nama serta di dalamnya   Kau pecahkan santapan kurban Mengenang kisah sengsara Sang Pencinta Tak sengaja tangis pecah tanpa suara Saat rapuh menyadarkan rasa Perihal setia yang belum benar kau jalani   Altar itu menjadi saksi dalam diam, Kau bergulat melawan ingin dan cita Sadar akan kelemahan Tentang rasa yang kau peluk dalam jubahmu   Rasa itu, Rasa yang sempat membuatmu berpikir apa kau tinggalkan Dia yang kau ikut mati-matian, Atau engkau melupakan segala apa yang sudah melekat dalam setiap   sepimu   Kau bergulat. Di depan altar itu, Bersama Kurban yang kau peluk setiap waktu.

Berjuang Bersama Tuhanmu | Puisi Maria Asti

Maria Asti | Mahasiswa Semester 8  UKI St. Paulus Ruteng  Malam berselimutkan awan nan gelap  Ditemani semilir angin sepoi nan lembut  Aku duduk terdiam, termangu pada sudut kamarku  Seakan sedang terperangkap dalam rasa,  yang mungkin telah kau abaikan  Namun, rasaku tak terbatas dan tak menuntut  untuk kau balas  Aku cukup mengerti Cara indah untuk mencintaimu,  adalah dengan mendoakanmu menutup mata, menoreh hati penuh pilu  Lalu bersujud pada Tuhanmu,  kelak akan meluluhkan hatimu  Mungkin, kau tersenyum bercampur sinis  atau mencibirku yang telah berjuang sendirian, tapi selalu ada senyum tulus tuk kepedihan ini. kau mesti tahu, aku tak berjuang sendirian,  aku berjuang bersama Tuhanmu .

Pena Matematika | Puisi Jesi Welo

  Jesi Welo | Mahasiswa Semester 8 UKI St. Paulus Ruteng  Tak seindah mentari pagi Yang selalu bersinar memancarkan senyum indah Melainkan... Seperti petir yang bernyala memancarkan Cahaya menakutkan Kepada kami di lingkaran berpenghuni ini ........    Kejenuhan, ketakutan, dengan angka-angka sulit yang ada pada mu seakan sudah tersubstitusi dalam jiwa kami bahkan tak mampu tereliminasikan ...... Kau selalu saja menjadi musuh dan bencana bagi kami Kapan kau menjadi penghibur pilu pikiran kami? Istimewa seperti angka sembilan,  Teduh seperti sahabat di hari-hari kami?

Antologi Puisi | Maria Chey

  PERIHAL Mari kita kenang peristiwa kemarin Tentang Jumpa tanpa rencana Tentang rasa yang diam-diam bertamu Tentang kisah yang tanpa sengaja terkenang Waktu itu, Ketika kita mencuri mimpi Dalam Jubah yang masih harum. ADAM Kau sayati Cinta dengan goresan pengkhianatan Pada janji yang tak mampu kau simpan, merobek Cerita dengan ketidaksetiaan   Dengan sadar kau injak ketulusan, Melumpuhkan kepercayaan yang baru dibangun Kemudian bertingkah seolah tak punya kesalahan   Kau hentikan kerinduan perihal mimpi yang belum tuntas, Bermain bersama api di bawah hujan yang baru pergi Agar tak terlihat bekas percik yang sudah jatuh dihapus basah   Ini Duka bagi sang pencinta, Mematikan seluruh ingin untuk mengulang, Tangis mulai menghujani pipi Bersihkan luka yang sudah berdarah   Adam, Kau tidak akan menatap Setia ini lagi, Tidak untuk memeluknya kembali, Sebab setelah waktu duka ini selesai, Dia benar benar tak akan kembali HAWA...

Antologi Puisi | Maria Chey

Oleh: Maria Chey  MARIA   Malam ini malam hening paling gaduh, Binatang Malam dan penghuni langit bulan bersembunyi entah di balik mana. Gelap seakan liar mengecup sepi Hempasan angin berhenti dalam rindang daun kering,   Malam ini malam hening paling gaduh, Untuk gadis bernama Maria, Yang kini berperang dengan kenangan Memori ribut dalam ingatan Diputarnya kisah tempo dulu Cerita-cerita jadul menampar duka   Maria, Gadis berpayung piluh, Yang tak lekas mau tinggalkan malam, Melebur bersama heningnya sepih Walau Pikiran mencabik diamnya   Di bawah gelap dan sepinya malam, Ditumpahkannya duka yang tertelan lama di dada, Pada hening yang dibuatnya bising, Dalam ributnya kenangan lalu   Malam ini malam hening paling gaduh, Saat maria merobek mimpi, Dengan ikatan temali yang mendarat pada lingkaran lehernya di bawah pohon rindang tempat lama ia mengadu luka   Maria tak tahan memeluk hening, Heni...