Ayah,
Lihatlah anakmu!
Bersujud peluh di
atas abu.
Aku menjadi tahu
tentang saat ketika mukamu menoleh pergi
Bukan sesal
menghindari kalbu,
Bukan juga
membuang muka atas sukarnya perjuangan.
Ayah,
Kulihat matamu
merah mengurat penuh haru
Menitipkan hujan tangisan
pada lembah pipimu
Mengisyaratkan
cinta pesan Ilahi, “janganlah muram mukamu!”
Dan engkaupun diabukan debu.
Ayah,
Lihatlah anakmu!
Bersujud peluh di atas abu.
Aku rapuh dalam
serpihan-serpihan tragedi kehidupan
Berharap ada
tangan mengulur memangku
Seperti juga
dalam waktu yang dulu, ketika pada bahumu aku mengarungi mimpi dalam tidur
Sampai pada waktu
ketika aku memahami waktu dan peraduanya
bersujud dalam relung jiwa,
Sekali lagi
tentang pesan Ilahi yang sama,
“Janganlah muram
mukamu!”

Mantap Bapa...... Tetap mencintai ibu M*riana
BalasHapusjahahhah hiduplah penuh cinta dan kasih, sebab sesungguhnya kita berasal dari debu dan kembali menjadi debu.
Hapus