
Melki Deni | Mahasiswa Semester VI STFK Ledalero
Gadis itu membaca kembali obituari
ibunya di kamar. Seorang karyawati tua menerka-nerka, seketika gadis itu masuk
kamar mandi Pastor, mengambil obituari itu setiap sabtu sore. Gadis itu tidak
patut dicurigakan, sementara obituari masih terpampang di kamar mandi Pastor. Gadis
itu sudah menyalin teks-teks obituari tersebut. Tapi Pastor itu tidak pernah
mencurigai gadis kecil, anak darahnya, dan obituari kekasih gelapnya itu,
kecuali gunting kecil. Empat tahun kemudian, Pastor itu baru tahu.
***
Gadis itu baru berumur enam belas
tahun. Pastor mengadopsi dia sejak masih kecil dari seorang janda. Pastor
menceritakan bahwa gadis itu merupakan hasil hubungan gelap seorang sopir
angkutan kota dan penjaga toko di kota seberang. Karena prihatin dan kasih
sayangnya, pastor mengadopsi dan membesarkan dia. Belasan tahun gadis itu
tinggal bersama Pastor itu di beberapa paroki. Sejak kecil gadis itu merindukan
sosok sang ayah seperti Pastor. Sekarang gadis itu duduk di bangku SMA.
Semuanya bermulai dari
ketaksanggupan bertahan dalam hidup selibat. Suster muda berumur dua puluh dua
tahun, sedangkan Pastor itu berumur tiga puluh satu tahun. Selama berada dalam
biara, mereka membungkam gairah biologis dan mensublimasinya ke
kegiatan-kegiatan biara, seperti kontemplasi, meditasi, brevir. tanam bunga,
rekreasi bersama, sharing, dan
lain-lain. Meskipun dalam kesendirian di kamar pribadi, mereka tidak
bisa membedakan momen keheningan, kesunyian, kesepian dan kehampaan. Tak ada
gejolak yang demikian menggetarkan dan mendaruratkan untuk dinyatakan kecuali
gairah seksual. Dalam hal ini Suster muda belia kurang waspada, dan hamil.
Kemudian melarikan diri ke kota seberang, sambil menantikan buah tubuhnya lahir
ke dunia.
Pastor itu mengumumkan bahwa Angela,
si suster muda itu sudah tarik diri dari biara dan mengikuti kekasihnya ke kota
seberang. Kekasihnya itu, mantan sewaktu suster Angela masih SMA. Semua umat di
Paroki itu percaya, sambil menyebarluaskan berita tentang suster Angela. Siapa
yang tidak percaya, jika pastor menceritakan? Tidak sedikit umat mulai
mengingat kembali fragmen pengalaman suster Angela, dan membangun cerita buruk.
Mereka katakan pantas suster Angela seperti itu, karena mereka pernah lihat
suster Angela berduaan dengan seorang lelaki muda di ruangan tamu susteran. Di
tempat lain, suster Angela diantar-jemput dari susteran ke pastoran dan dari
pastoran ke susteran oleh seorang lelaki. Umat tidak mengenal lelaki itu.
Asumsi-asumsi menjenazahakan kebenaran.
Sebelum ke kota seberang suster
Angela sering dimintai bantuan oleh Pastor untuk menyelesaikan beberapa pekerjan
di pastoran mulai dari urusan dapur, dekorasi gereja, sampai merapikan tempat
tidur Pastor. Mereka saling kenal jauh sebelum mereka bertemu kembali di
pastoran itu. Tapi menyadari perhatian dan nasihat-nasihat rohaniah Pastor itu,
suster Angela seolah-olah terjebak dalam perangkap cinta erotis sang Pastor.
Antara perhatian dan cinta sesungguhnya terdapat batas yang jelas, tetapi
gairah seksual seringkali mengaburkannya.
Selama dua bulan suster muda tidak
lagi pergi ke pastoran, dan jarang keluar dari kamar. Ia mulai merasakan
sesuatu yang lain di dalam dirinya; berat badan naik, mudah letih dan
pusing-pusing. Ketika mau mual, ia pura-pura batuk dan menggaruk-garuk leher.
Sesekali ia mual sementara makan bersama dengan suster-suster, tapi ia
beralasan semalaman ia tidak bisa tidur. Barangkali ada masalah di kampung,
katanya. Suster-suster mengiyakan saja. Ia mengurung diri di dalam kamaranya
selama seminggu dengan alasan sakit, tenggorokan gatal dan pilek, sementara
Pastor tetap memimpin Misa dan mengunjungi umat-umat yang jauh. Ketika suster
Angela hendak mandi, lantai kamar mandinya licin, ia terjatuh, hingga ia harus
mengalami pendarahan di sana. Ia semakin lama mengurung diri.
Suster Angela mulai kehilangan
semangat hidup di dalam biara, dan tak seorang pun suster datang mendengarkan
dia di kamarnya, kecuali karyawati yang setia memberinya makanan dan
obat-obatan yang tidak sesuai dengan penderitaan yang dialaminya. Ia mengirim
pesan singkat ke Pastor agar mengunjunginya, tetapi Pastor selalu beralasan;
pelayanan umat. Kadang-kadang suster Angela harus keluar di malam hari untuk
melahap pandan muda di dapur, minum alkohol, atau minum rinso di kamar mandi.
Ia mau menggugurkan kandungan itu, tetapi tak ada tanda-tanda. Perut semakin
membuncit.
Di kota seberang, ketika anak mereka
sudah berusia lima tahun, Angela kehabisan uang. Ia tidak bisa menghubungi
Pastor itu, karena nomor Hp sudah ganti. Uang berhenti mengalir. Kini Angela
dan Grace, anaknya itu hidup dalam
ketidakpastian. Sesekali Angela ditawari oleh lelaki hidung belang, dan ia
terpaksa melayaninya demi Grace. Tidak mungkin Angela membuang atau membunuh
Grace, sebab itu melanggar aturan negara dan perintah Gereja—seperti yang
dikhotbahkan ayah Grace pada hari Minggu di mana-mana.
Angela ingat bahwa aku merantau
sudah sejak beberapa tahun lalu. Ia menghubungi aku melalui facebook. Suatu
hari ia ke indekos dan bertanya, bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan. Ia tidak
menceritakan mengapa ia sampai berada di sana, anaknya yang malang dan
kehidupan biara. Aku pun tidak berniat tanya. Aku menawarkan ia bekerja di toko
roti.
“Aku tidak mungkin membunuh Grace.
Aku juga tidak mungkin melaporkan Pastor itu ke pihak Keuskupan atau lembaga
hukum, Silvano.” Siapa itu Grace atau siapa Pastor itu, ia tidak menceritakannya.
Aku yakin ia sedang berada dalam masalah yang besar. Wajahnya sedang
membahasakan batinnya. Ia tampak kurus, lebam dan kusut.
Pastor itu nyaris jatuh cinta dengan
seorang janda di paroki itu, dan ia melakukan itu karena ketagihan biologis.
Tapi kesibukan pastoral membatasinya. Janda itu sudah punya satu anak, dan
mengadopsi anak mantan suster, sahabatnya sewaktu SMA. Janda itu masih segar.
Pastor sesekali menjebakknya, tapi janda itu tidak terjebak dan tidak pula
merespons jebakan-jebakan Pastor. Janda justru meminta doa dan berkat dari
Pastor agar terhindar dari jebakan-jebakan seperti itu. Sesekali Pastor
mengirimkan foto kelaminnya, tapi si janda langsung menghapus dan mengirimkan
gambar-gambar kudus. Janda tahu Pastor itu terlalu lama memenjarakan hasrat
biologis di dalam biara, maka ia memintanya sesekali piknik di pantai.
Anaknya, Lany dan Grace, anak
sahabatnya diminta oleh janda itu untuk berpiknik bersama Pastor di pantai.
Janda itu tidak ikut. Grace merasakan daya tarik menarik dengan Pastor. Tak
bosan-bosannya Grace melihat dan membayangkan Pastor itu menjadi ayahnya. Grace
membayangkan dirinya, ibu dan ayahnya duduk di tepi pantai sore hari,
menyaksikan kapal-kapal mewarnai laut, langit berdiri di atas laut, desiran
ombak, dan bayang-bayang orang-orang yang jauh di sana. Seketika itu Grace
menggenggam erat tangan Pastor itu, air mata mengalir pelan. Pastor melihat
senyuman Angela di balik keceriaan Grace. Pastor jatuh hati kepadanya, dan
meminta dia menjadi anak angkat. Grace mengangguk berkali-kali. Grace pun
tinggal di pastoran. Suatu hari pastor pergi melayani umat di stasi yang jauh,
Grace membersihkan kamar mandi Pastor itu. Ia menemukan surat-surat yang disimpan
di dalam kantong plastik di pintu kamar mandi, tapi ia belum bisa mengerti
betul isinya. Setelah melihat surat-surat itu, ia ingin membacanya berkali-kali
dalam sehari. Aku ingin tahu ada apa di balik surat-surat itu, katanya.
***
Setelah Angela menitipkan Grace
kepada Sofia, ia diam-diam pulang. Beberapa kali Pastor itu pindah ke
paroki-paroki lain, tapi akhirnya ditempatkan kembali di paroki itu. Angela
menemui Pastor di pastoran. Ia menceritakan bahwa Grace sudah besar, dan sedang
berlibur bersama satu keluarga, kenalannya di kota seberang. Angela mengancam
Pastor akan dilaporkan ke polisi, kalau tidak diberikan sejumlah uang kepadanya
atau mengungkapkan secara jujur tentang semuanya. Kurang lebih seminggu Angela
disekap di dalam kamar pastor. Angela menulis tentang riwayat hikayat balada
yang menimpah hidupnya. Suatu malam Pastor menaruh racun tikus pada makanan
yang akan dimakan oleh Angela, tapi Angela tidak juga mati. Akhirnya Pastor
mencekik Angela di atas tempat tidur. Angela meninggal di tempat ia digauli
oleh Pastor. Pagi-pagi Pastor membuang jenazah Angela di laut. Angela sayang,
Angela malang.
***
Ketika kudengar Angela sudah
meninggal, aku segera mencari tahu sebab-sebab kematiannya. Aku begitu kecewa,
ketika tidak mengajak Angela dan Grace pulang kampung bersama beberapa tahun
lalu. Tapi di manakah Grace sekarang? Aku teringat Damian pernah bilang bahwa
Sofia, si janda itu mengadopsi seorang gadis kecil, anak temannya sewaktu SMA.
Yang kutahu Sofia sangat akrab dengan Angela dulu. Aku langsung mendekati
Sofia, seperti biasanya, Sofia bekerja sebagai penjahit. Ia berhenti menjahit
karena terkejut oleh kedatanganku. Aku mulai bercerita dan bertanya tentang
Grace, meskpi sempat ia berusaha sembunyikan keberadaannya, ia pun tetap
menceritakan semuanya. Kini Grace tinggal di pastoran, katanya. Selain karena
Grace diangkat menjadi anak oleh Pastor, Sofia tidak mampu membiayai sekolah
dua anak sekalian. Sampai kini Sofia tidak tahu cerita yang benar tentang
Angela dan Grace.
Aku hampir membongkar rahasia Angela
di depan Sofia, tapi aku tidak tega dengan Grace yang masih kecil. “Kalau Grace
sudah dewasa, kau ceritakan bisa semuanya, Silvano” permintaan terakhir Angela.
Aku langsung pamit pulang. Di rumah, aku memikirkan nasib Grace ke depannya.
Mengapa aku tidak menangkap Angela seketika ia masih puber pertama? Lama
kemudian aku membaca kembali surat-surat cinta Angela, yang tak sempat kubalas.
Aku sering membaca dalam novel perihal cinta sejati yang tak dibalas dengan
variasi alasan, tapi aku tak pernah terpikir itu bisa menimpah diriku. Prinsip-prinsip
hidup terlalu tinggi sering menelantarkan cinta sejati.
***
Ketika masih di kota seberang Angela
mengunjungi aku di indekos, menceritakan semua peristiwa yang menimpah
hidupnya, Pastor yang menggaulinya di pastoran saat sepi. Ia tidak waspada,
tenggelam dan hamil. Ia menyatakan bahwa ia benar-benar dipaksa, di luar
kendali dan tak berdaya. Ia mengutuki dirinya karena telah mengkhianati biara,
orangtua, Tuhan dan keluarga besar di kampungnya. Ia mau menjadi biarawati,
karena ia jatuh cinta kepada Tuhan. “Itu saja, Silvano,” katanya.
“Mengapa kau tidak melaporkan dia ke
polisi. Karena Keuskupan tidak mungkin memproses secara hukum Pastor itu,”
kataku. Ia meminta kepadaku supaya tidak menceritakannya kepada siapa pun.
Angela tidak mau semua anggota biara dan keluarga kecewa karena dibohonginya.
Ketika mau tarik diri, ia beralasan tidak bisa bertahan lagi di dalam biara dan
memanipulasi hasil periksa kesehatan di sebuah rumah sakit. “Aku sudah
bersumpah menjadi biarawati di bumi dan di surga, Silvano”. Angela dibunuh,
karena barangkali dunia tidak mengizinkan dia menjadi biarawati sampai mati.
“Barangkali surga mengizinkan aku menjadi biarawati abadi di surga, Silvano” katanya.
***
Grace menyalin surat-surat dari
kamar mandi Pastor tanpa kehilangan satu kata dan tanda baca. Ia melakukan itu,
ketika Pastor sibuk melayani umat yang jauh di sana. Seketika menyalin, Grace
merasa seolah-olah sedang mendengarkan secara langsung tokoh dalam surat-surat
itu bercerita. Sesekali ia menangkap wajah ibunya pada lembaran itu, tapi ia
berusaha mengusirnya dengan mengedip-ngedipkan matanya. Sejak melihat
surat-surat itu, ia mimpi mendengarkan ibunya membacakan obituari di mimbar
sebuah Gereja. Grace tidak menghubung-hubungkan isi surat-surat itu dengan
kematian ibunya.
***
Sofia menyuruh Lany supaya sesekali
ajak Grace pesiar ke rumah. Sofia merindukan Angela, teman yang pernah membantu
dia ketika mengerjakan ujian sewaktu SMA. Ia mengenal baik Angela yang diburuh
oleh banyak lelaki, karena cantik, pintar dan dewasa itu. Ia mengingat-ingat
semuanya, matanya berlinangan dan tak lama kemudian menangis. Pernah sekali,
Sofia hampir tertabrak mobil, Angela langsung menarik dia keluar dari jalan. Sofia
ingin membalas kebaikan Angela dengan mengadopsi Grace sebagai anaknya. Sofia
tahu perhabatan sejati menghapus jarak, garis dan batas.
***
Malam itu dalam mimpi, Grace bertemu
ibunya dan mengatakan bahwa dialah yang menulis surat-surat itu. “Itulah riwayat
hikayat balada hidupku, anakku sayang. Akulah seorang suster yang diperkosa
itu, dan anakku sayang adalah buah hubungan serakah itu. Akulah wanita yang
malam-malam berusaha membunuh anakku sayang. Akulah yang membacakan obituari di
mimbar di sebuah Gereja itu. Barangkali ada umat yang buka mata terhadapa
kejahatan pastor itu. Aku dibunuh di tempat aku diperkosa berkali-kali. Akulah
yang malang, aku telah menghkinati biara, Tuhan, orangtua dan keluarga besar di
kampung. Simpanlah surat-surat itu, dan gunakanlah sebagaimana mestinya. Suatu
saat surat-surat itu akan menjelma menjadi aku; kebenaran yang sesungguhnya.
Aku yakin, Tuhan menyembunyikan bagiku surga dari dunia. Anakku sayang,
pergilah ke Gereja. Berdoalah kepada Allah, supaya Tuhan yang telah memanggil
aku menjadi suster sementara di dunia, menghibur dan melindungi anakku sayang.
Tuhan tahu, dosaku padamu tidak akan kubayar tuntas.” Grace terbangun menangis
histeris dan sejenak kemudian berdoa di Gereja.
Di sudut Gereja Grace duduk dan
menjerit-jerit. Keburukan berlalu, namun kejahatan masih tetap tinggal.
Kejahatan adalah potensial, dan keburukan adalah aktual. Dua-duanya seiring
sejalan mengapiti hidup manusia. Grace tidak mungkin mengangkanginya.
Di sudut Gereja Grace mengutuki diri—mengingat
perjuangannya menjadi manusia di dalam rahim seorang suster—hidup dari hasil
pemerkosaan di pastoran. Ia tidak menemukan cahaya dalam hidup, selain
kegelapan sejak dari kandungan sampai mati nanti. Barangkali para dewa telah
menyembunyikan cahaya bagi dunia, bagi hidupnya.
***
Pastor bangun, melihat surat-surat yang disembunyikan Angela di kamar mandinya menjadi berserakan di depan kamarnya. Di pintu kamar Pastor, Grace menulis besar-besar dengan darahnya, “Pastor terkutuk memperkosa suster Angela, dan melahirkan Grace; anak kutuk. Kita: Keluarga Kutuk!” Pastor itu melihat gunting kecil yang sempat hilang itu tergeletak di lantai, dan sejenak kemudian mati.
(Cerpen ini pernah mendapat penghargaan (juara 3) dalam perlombaan penulisan cerpen bertemakan LUKA yang diselenggarakan oleh AE Publishing Kalimantan)
Berusaha menempatkan diri pada posisi tidak berdosa dan tidak bersalah(toko pastor) dia dengan lantangnya atau dgn beraninya memberi khotbah kepda umatnya. Seakan akan dia tidak berdosa. Padahal perilakunya sudah tidak bisa lagi disebut sebgai Imam dan tidak boleh merangkul umat dalam pelukannya🙏🏻🙏🏻terima kasih😊
BalasHapus
BalasHapusIni luar biasa makna cerpennnya..
Semoga cerpen ini menjadi pelajaran bagi calon2 "imam" Yang kelak menjadi tokoh panutan gereja dan umat serta 'benar-benar' menjadi pengikut Tuhan yang setia. Ini menjadi penanda bahwa menjadi Pastor membutuhkan komitmen yang kuat karena bukan soal pelayanan dalam jangka pendek.