
Bertin Japa | Mahasiswa Semester VIII
STFK Ledalero
(Tulisan sederhana ini lebih bersifat sebagai sebuah Catatan reflektif bagi kaum perempuan yang membunuh buah hatinya lantaran tidak ada pengakuan dari pihak laki-laki)
PENDAHULUAN
Aksi perlawanan akibat perkara batin terhadap suatu tanggungjawab yang berat adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, benarkah tesis demikian dibenarkan secara mutlak. Ataukah ada kemungkinan lain semisal menerima tanggungjawab sekalipun itu berat bahkan sulit dipahami untuk konteks manusiawi. Dua hal inilah yang menimbulkan perkara batin. Perkara mengandaikan ada suatu pertentangan antara realitas di luar diri dengan apa yang dirasakan dalam diri. Apakah ada kemungkinan untuk mendamaikan pertentangan yang ada?. Hemat saya, kemungkinan itu akan ada jika kita bercermin diri dengan kesaksian hidup Bunda Maria.
Kasus pembunuhan bayi sering menjadi menu bulanan yang menyita perhatian publik. Masalah pembunuhan bayi tidak lagi dianggap sebagai masalah langka melainkan sesuatu yang rutin terjadi, misalnya sebagaimana disinyalir oleh Pos Kupang bahwa jasad bayi yang baru dilahirkan, dibunuh dan dibuang oleh ibunya di dalam Water Cloced (wc) di kecamatan Waigete, kabupaten Sikka.[1] Lebih lanjut, motif utama dari kejadian ini ialah ketidaksanggupan sang ibu menanggung rasa malu sebab anak yang dikandungnya adalah hasil hubungan gelap dengan lelaki yang menjadi tetangga rumahnya sementara suami pelaku masih merantau di Kalimantan. Kejadian ini hanyalah salah satu contoh representasi dari kejadian lainnya yang sengaja diangkat pada awal tulisan ini. Representasi semacam ini juga menghantar kita kepada suatu realitas tidak sedikitnya kaum ibu yang menyimpan keangkuhan di balik kelemahlembutan.
PERKARA BATIN ( Kekuatan Cinta dan Keegoisan Manusia)
Dua model kepribadian yang akan digambarkan bertujuan untuk memperjelas atau membandingkan perkara batin manusia yang ditopang oleh kuasa ilahi dan yang ditopang oleh kuasa manusia.
Cinta Direnggut Rasa Malu
Dewasa ini pemahaman akan hukum cinta hampir telah mendarah-daging namun pelaksanaan dari pemahaman itu masih jauh dari panggang api. Kobaran api cinta sering dipadamkan dengan aneka perasaan yang membuat hasrat untuk mengaplikasikannya terhalang. Misalnya ,ada orang yang kurang mampu membuktikan rasa cinta karena rasa malu dan psimis. Hakekat ungkapan cinta yang sesungguhnya mesti dipahami melampaui konteks afeksi yakni ungkapan cinta universal, mencintai sesama dengan sepenuh hati.
Peristiwa manusia di taman Eden mengungkapkan suatu realitas yang mempunyai keterkaitan dengan fenomena yang sering terjadi sekarang khususnya kasus pembunuhan bayi oleh ibu kandungnya. Pada mulanya Hawa mencintai Allah sebagai pemberi hidup dan segala kebaikkan. Ia merasa aman dalam lindungan Tuhan, tetapi karena curiga dan penggodaan itu, akhirnya Hawa menakuti Allah sebagi sumber kebinasaan dan merasa perlu merebut haknya yang tidak mau diberikan Allah.[2] Situasi batin Hawa yang telah paparkan sebenarnya memperlihatkan suatu realitas yang secara implisit berparalel dengan situasi batin kaum ibu yang dihadapkan dengan peristiwa mengandung buah hati tanpa pertanggungjawaban dari pihak laki-laki.
Kecenderungan untuk menghalalkan segala cara muncul pada saat situasi yang dilema seperti ini. Mereka tergoda untuk menutup rasa malu dengan tindakkan yang tidak manusiawi, membunuh anak kandung sendiri. Di samping itu, jika ditelisik dari sudut pandang psikologi, mereka dikategorikan sebagai orang yang kurang matang secara emosional. Kematangan psiko-emosional patut dipertanyakan sebab pada galibnya kematangan psiko-emosional lebih dipahami sebagai pengenalan yang mendalam akan kekuatan dan kelemahan diri serta kesanggupan untuk mengintegrasikan dalam panggilan hidup sebagai seorang ibu.
Cinta Mengutuk Rasa Malu
Ungkapan cinta yang fundamental tergambar dalam pribadi yang rela mengorbankan segalanya demi orang yang ia cintai. Ungkapan cinta Bunda Maria telah membuktikan esensi dari cinta yang sejati yakni melebihi segala-galanya, termasuk mengorbankan harkat dan martabatnya sebagai seorang gadis. Dalam peristiwa itu Maria turut serta bukan dalam terang pengertian yang jelas, melainkan dalam kegelapan iman yang sering kali baru perlahan-lahan bisa mengerti dan menyingkapkan kehendak dan maksud Allah.[3] Segala bentuk kehendak Allah senantiasa hadir dengan kekhasannya masing-masing.
Keraguan Bunda Maria ketika pertama kali menerima kabar dari malaikat Gabriel menampilkan sisi kemanusiawiannya dimana ia merasa kurang pantas menerima tugas dari Allah, tetapi kekuatan iman memampukan Maria untuk melihat tugas itu sebagai bukti kecintaannya kepada Allah. Oleh karena itu, Bunda Maria menduduki tempat dan peranan istimewa dalam hidup dan sejarah tata penyelamatan dan karena tempat dan peranan istimewa itulah maka Maria dihormati oleh Gereja melebihi semua orang kudus.[4] Pemberian tempat yang istimewa kepada Bunda Maria menggambarkan sikap keterbukaan umat kristen untuk mengakui Bunda Maria sebagai suri teladan dalam menerima setiap tugas dari Allah.
UPAYA PENDAMAIAN: PERKARA BATIN DAN HUKUM CINTA KASIH
Rahmat penyelamatan Kristus tidak merendahkan martabat manusia dengan menjadikannnya objek mati, melainkan mengangkatnya sebagai subjek pribadi kepada peran serta aktif di dalam karya-Nya sendiri.[5] Pemahaman ini senantiasa menjadi suara pembebasan dan jalan rekonsiliasi antara realitas Maria dengan realitas kaum ibu yang menjadi pelaku pembunuhan bayi. Segala sesuatu yang diterima oleh orang beriman sebagai subjek yang menampakkan rahmat penyelamatan dalam realitas menjadikan dirinya sebagai sumber rahmat bagi orang lain. Singkatnya, kesedian untuk menerima rahmat mencerminkan pribadi yang mau bersolider dengan yang lain. Kepribadian ini selalu memikirkan alternatif lain semisal menyerahkan sang anak kepada lembaga sosial seperti panti asuhan atau menyerahkannya kepada para orangtua yang tidak memiliki anak. Inilah bukti kepatuhan manusia atas hukum cinta kasih yang dititahkan oleh Allah.
Berkaitan dengan sikap Bunda Maria yang menyimpan perkara dalam hati memampukan Ia untuk menerima Yesus sebagai rahmat yang unik, hadiah istimewa yang diberikan oleh Allah. Maka genaplah seruan Khalil Gibran, sang penyair Lebanon ”Anakmu bukan milikmu, mereka milik Sang Hidup yang rindu pada dirinya sendiri”. Bunda Maria mengartikan perkara batin sebagai situasi sakral dan komunikasi iman secara personal dimana Allah sungguh hadir melebur diri ke dalam keterbatasannya sebagai manusia biasa. Ia mengakui bahwa kepenuhan hukum cinta kasih dari Allah hanya mungkin dipenuhi jika ia mampu membuat pengolahan batin dengan hati dan penuh iman.
PENUTUP
Perkara batin bersifat subyetif. Karena itu, berbicara perkara batin merupakan pokok pembahasan yang sulit dipecahkan jika disetarakan dengan konteks pemahaman rasional. Berhasil atau tidaknya penyelesaian dari problem ini sangat bergantung pada subyek yang menanggung perkara itu dan bukan suatu kemutlakkan bahwa setiap orang gagal atau berhasil dalam proses penyelesaiannya. Sebagaimana yang telah diulas pada bagian awal tulisan ini bahwa ada kemungkinan untuk menyelesaikannya dan kemungkinan itu akan terjawab apabila setiap pribadi (kaum ibu) mampu membuat pengolahan batin dan menyelesaikan persoalan ini dengan bantuan Sang Ilahi sambil bercermin pada pribadi Bunda Maria. Mengandung seorang anak mesti disadari sebagai tugas mulia yang dipercayakan oleh Allah sekalipun anak yang dikandung merupakan hasil hubungan 'gelap'.
Adapun aspek yang sangat penting dari kesadaran sebagai orang yang dipilih oleh Allah ialah seorang perempuan (kaum ibu) mendapat kepastian bahwa ia dicintai dengan sepenuh hati oleh Allah. Kepastian dicintai merupakan impian setiap orang. Dicintai dengan sepenuh hati oleh Allah akan membuat dirimu menjadi kuat dan kalau engkau mencintai Allah dengan seutuh jiwa, engkau akan diberi keberanian surgawi.[6] Keberanian ini dianugerahkan kepada Bunda Maria dan kepada semua kaum ibu agar mampu mengolah perkara batin secara bijak dan penuh iman.
Catatan Akhir
[1] Ius, "Jasad Bayi
Dimasukkan Dalam WC", Pos Kupang, 10
September 2018, hlm. 13.
[2] Georg Kirchberger, Allah Menggugat (Maumere: Penerbit
Ledalero, 2007), hlm. 442.
[3] Ibid., hlm. 434.
[4] Aloys Budi Purnomo, Bunda Maria Teladan Iman Kita (Yogyakarta:
Yayasan Pustaka Nusantara, 2000), hlm. 14.
[5] Loc. Cit.
Komentar
Posting Komentar