Langsung ke konten utama

Antologi Puisi || Herlin Nadut

Hampa Menua


Tak ada suara yg menyahut di langit

Hampa menua terasa dijiwa

Semuanya piluh penuh membisu  

Tak tenang rindu mengalun

Mengokohkan hening dalam kesendirian

 

Aku yang adalah jiwa penyendiri

Merebahkan tubuhku pada bahu pilu

Menyandarkan kehampaanku pada langit berlapis gelap

Karena dalam kesendirianku tak ada yang menemani

 

Kini malamku hanya mengokohkan hening

Tanpa runding yang merundingnya

Semuanya kosong tanpa sua

Tanpa saling mendekat yang menjauh

(Benteng, 18 April 2021)

 

Sahabat Malam

 

Kembali ku bergurau pada malam

merajut bersamanya dalam gubatan nuansa melodi hening

Merapal disetiap Kata dalam nama rindu

Yang akan menjadi teman untuk bersemi

 

Aku yang adalah teman sejatinya si malam

Berbincang menukar logika kami

lewat rembulan yang menyinar canda kami

Senyum bahagia menopang gurau kami

 

Langit yang adalah menjadi Saksi gurau aku dan malam

Memanjakan daku dalam dekapannya

Menepis syair -syair rindu dalam perbincangan

Supaya daku lekas menenang

 (Benteng, 24 April 2021)


Cerita Pagi

 

Senyum menegur pagi

Manyapa dengan santun

Dan membentang senandung cinta

Yang melompang hingga ufuk fajar

Mengurai serumpun bait kasih

Dalam pelukan sang mentari

Hingga menepis riah pada ending

Dicerita pagi

(Benteng,10 Maret 2021)




 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

La'at Natas FC Menjamu IMAMM FC di Lapangan Wairpelit

  Pose bersama setelah pertandingan persahabatan La'at Natas FC menjamu IMAMM (Ikatan Mahasiswa asal Manggarai di Maumere) FC dalam pertandingan persahabatan di lapangan Wairpelit pada 1/05/2023. Pertandingan persahabatan yang diinisiasi oleh Paguyuban fratres SVD asal Manggarai itu berjalan lancar dan dalam suasana persaudaraan yang solid. Pukul 15.30 WITA, wasit utama pertandingan, Bruno Kefi membuka keseluruhan pertandingan dengan memberi arahan dan sekaligus memberi kesempatan para pemain saling bersalaman. Sejak awal pertandingan, para pemain La'at Natas FC berusaha menekan pertahanan IMAMM FC. Pada menit ke-11, Striker La'at Natas, Waldus Nuka berhasil menjebol gawang IMAMM FC dengan tendangan keras di sudut gawang. Gol ini berangkat dari asis manja pemain tengah andalan La'at Natas FC, Smith Sahputra yang memanfaatkan ruang kosong di lini tengah IMAMM FC. Skor kedudukan berubah menjadi 1-0. Tak berselang lama, gelandang La'at Natas, Is patut memanfaatka...

EGO || Puisi Ell Wiwin

sumber: hipwe.com EGO Darah panas meluapkan amarah Ego dapat meremukkan tulang Suara hati menjerit lepas kendali Adakah yang bisa mengenal hatiku?   Kekeringan iman menjadikan orang kesepian Sungai yang berdesir mencoba membasuh diri Siapa yang dapat menepis debu setelah melekat?   Tangisan menjadi hobi baru Rintikan air mata menetes menjadi tak bermakna Ketika waktunya tiba air mata menjadi dingin Hambar rasa dan tawar hati   Kehangatan cinta terlalu jauh untuk dirangkul Memeluk jiwa dalam kerinduan yang tak terelakkan Panas dingin berdesir mengisi hati yang pilu Masihkan Engkau di sana menungguku?   Memelihara cinta di dasar hati dapat mengharumkan jiwa Namun cinta siapa yang masih bisa berakar? Keegoisan mengembangkan cinta yang fana Menaburkan duri di hati orang lain dan memuja diri   Kebaikan dan kesucian bagaikan buruan di tengah hiruk pikuk dunia Menjadikan penglihatan dan pendengaran tajam Setiap oran...

Hak Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan dalam Cengkeraman Represi Negara dan Agama Mayoritas | Opini Sarnus Joni Harto

  Sarnus Joni Harto, Mahasiswa S1 STFK Ledalero Prolog             Melalui artikel berjudul “Analisis Historis terhadap Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan sebagai Cara Menyelesaikan Konflik”, Malcom D. Evans secara sistematis menguraikan hubungan antara negara dan agama serta pengaruh hubungan itu terhadap evolusi hak kebebasan beragama atau berkeyakinan hingga mencapai pengakuannya melalui Universal Declaration of Human Rights (DUHAM). Menurut Evans, evolusi hak kebebasan beragama bertalian erat dengan konteks sosial-politik sejak Kekaisaran Romawi hingga periode Perang Dunia II. Sebelum pemisahan tegas antara agama dan negara serta sebelum adanya pengakuan universal atas hak individu, kebebasan beragama, baik dalam pengertian positif maupun negatif, adalah suatu ‘pemberian negara’ demi menjamin stabilitas sosial-politik. Karena itu, selama periode itu, hak kebebasan beragama menjadi suatu komoditas politik yang melangge...