Langsung ke konten utama

Wanita Terluka || Puisi Yohanes Rudin


sumber gambar: cikimm. com

 

Dalam kesunyian dan kebisuan nestapa seorang wanita tua menangis sedih dan pedih.

Ia menangis bukan karena merasa galau,

Bukan pula karena diejek kaum asing

Dia menangis karena hatinya terluka

Terluka oleh tusukan pisau kekuasaan anaknya yang terlahir dari dalam rahimnya sendiri.

Hatinya terluka parah karena ulah tak bertanggung jawab anaknya yang memegang kekuasaan.

****

Hati wanita tua itu sudah terluka

Ia meratapi lukanya dalam kebisuaan tak berdaya.

Tak ada insan yang mempedulikannya

Kini air matanya terus menetes di pipinya yang kian hari kian keriput.

Tubuhnya tak sanggup berdiri dengan tegak

Kaki penyanggah sudah pada rapuh dan keropos.

Hidup terombang ambing bagai perahu cadik diterpa taupan ganas

Kulit pembalut tubuhnya kian hari kian menipis terbakar panas sinar matahari.

Pohon bermahkota hijau tempat berlindung kini berguguran satu per satu ditimpa bencana.

Rambutnya yang kusam semakin rapuh dan rontok tak terbendung lantaran air penyejuk sudah pada kering kerontang.

****

Kini hidupnya berantakan tak terurus.

Tak ada relawan yang peduli untuk menatanya.

Tangan-tangan jahil dan tamak masih terus menggerogot dan memerasnya tanpa ampun.

Kini wanita tua itu benar-benar mendertita

Pedih dan perih telah menyelimuti tubuhnya.

Keelokan rupanya dan keindahan parasnya telah hilang lenyap di tangan para penguasa.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

La'at Natas FC Menjamu IMAMM FC di Lapangan Wairpelit

  Pose bersama setelah pertandingan persahabatan La'at Natas FC menjamu IMAMM (Ikatan Mahasiswa asal Manggarai di Maumere) FC dalam pertandingan persahabatan di lapangan Wairpelit pada 1/05/2023. Pertandingan persahabatan yang diinisiasi oleh Paguyuban fratres SVD asal Manggarai itu berjalan lancar dan dalam suasana persaudaraan yang solid. Pukul 15.30 WITA, wasit utama pertandingan, Bruno Kefi membuka keseluruhan pertandingan dengan memberi arahan dan sekaligus memberi kesempatan para pemain saling bersalaman. Sejak awal pertandingan, para pemain La'at Natas FC berusaha menekan pertahanan IMAMM FC. Pada menit ke-11, Striker La'at Natas, Waldus Nuka berhasil menjebol gawang IMAMM FC dengan tendangan keras di sudut gawang. Gol ini berangkat dari asis manja pemain tengah andalan La'at Natas FC, Smith Sahputra yang memanfaatkan ruang kosong di lini tengah IMAMM FC. Skor kedudukan berubah menjadi 1-0. Tak berselang lama, gelandang La'at Natas, Is patut memanfaatka...

EGO || Puisi Ell Wiwin

sumber: hipwe.com EGO Darah panas meluapkan amarah Ego dapat meremukkan tulang Suara hati menjerit lepas kendali Adakah yang bisa mengenal hatiku?   Kekeringan iman menjadikan orang kesepian Sungai yang berdesir mencoba membasuh diri Siapa yang dapat menepis debu setelah melekat?   Tangisan menjadi hobi baru Rintikan air mata menetes menjadi tak bermakna Ketika waktunya tiba air mata menjadi dingin Hambar rasa dan tawar hati   Kehangatan cinta terlalu jauh untuk dirangkul Memeluk jiwa dalam kerinduan yang tak terelakkan Panas dingin berdesir mengisi hati yang pilu Masihkan Engkau di sana menungguku?   Memelihara cinta di dasar hati dapat mengharumkan jiwa Namun cinta siapa yang masih bisa berakar? Keegoisan mengembangkan cinta yang fana Menaburkan duri di hati orang lain dan memuja diri   Kebaikan dan kesucian bagaikan buruan di tengah hiruk pikuk dunia Menjadikan penglihatan dan pendengaran tajam Setiap oran...

Hak Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan dalam Cengkeraman Represi Negara dan Agama Mayoritas | Opini Sarnus Joni Harto

  Sarnus Joni Harto, Mahasiswa S1 STFK Ledalero Prolog             Melalui artikel berjudul “Analisis Historis terhadap Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan sebagai Cara Menyelesaikan Konflik”, Malcom D. Evans secara sistematis menguraikan hubungan antara negara dan agama serta pengaruh hubungan itu terhadap evolusi hak kebebasan beragama atau berkeyakinan hingga mencapai pengakuannya melalui Universal Declaration of Human Rights (DUHAM). Menurut Evans, evolusi hak kebebasan beragama bertalian erat dengan konteks sosial-politik sejak Kekaisaran Romawi hingga periode Perang Dunia II. Sebelum pemisahan tegas antara agama dan negara serta sebelum adanya pengakuan universal atas hak individu, kebebasan beragama, baik dalam pengertian positif maupun negatif, adalah suatu ‘pemberian negara’ demi menjamin stabilitas sosial-politik. Karena itu, selama periode itu, hak kebebasan beragama menjadi suatu komoditas politik yang melangge...