Langsung ke konten utama

Postingan

Perkara Batin Bunda Maria: Jalan Pembebasan bagi Kaum Ibu | Opini Bertin Japa

 Bertin Japa | Mahasiswa Semester VIII STFK Ledalero (Tulisan sederhana ini lebih bersifat sebagai sebuah   C atatan reflektif bagi kaum perempuan yang membunuh buah hatinya lantaran tidak ada pengakuan dari pihak laki-laki) PENDAHULUAN      Aksi perlawanan akibat perkara batin terhadap suatu tanggungjawab yang berat adalah sesuatu yang manusiawi. Namun , benarkah tesis demikian dibenarkan secara mutlak. Ataukah ada kemungkinan lain semisal menerima tanggungjawab sekalipun itu berat bahkan sulit dipahami untuk konteks manusiawi.   Dua hal inilah yang menimbulkan perkara batin. Perkara mengandaikan ada suatu pertentangan antara realitas di luar diri dengan apa yang dirasakan dalam diri. Apakah ada kemungkinan untuk mendamaikan pertentangan yang ada?. Hemat saya, kemungkinan itu akan ada jika kita bercermin diri dengan kesaksian hidup Bunda Maria.      Kasus pembunuhan bayi sering menjadi menu bulanan yang menyita perhatian publik. Masalah...

Antologi Puisi | Maria Chey

Oleh: Maria Chey  MARIA   Malam ini malam hening paling gaduh, Binatang Malam dan penghuni langit bulan bersembunyi entah di balik mana. Gelap seakan liar mengecup sepi Hempasan angin berhenti dalam rindang daun kering,   Malam ini malam hening paling gaduh, Untuk gadis bernama Maria, Yang kini berperang dengan kenangan Memori ribut dalam ingatan Diputarnya kisah tempo dulu Cerita-cerita jadul menampar duka   Maria, Gadis berpayung piluh, Yang tak lekas mau tinggalkan malam, Melebur bersama heningnya sepih Walau Pikiran mencabik diamnya   Di bawah gelap dan sepinya malam, Ditumpahkannya duka yang tertelan lama di dada, Pada hening yang dibuatnya bising, Dalam ributnya kenangan lalu   Malam ini malam hening paling gaduh, Saat maria merobek mimpi, Dengan ikatan temali yang mendarat pada lingkaran lehernya di bawah pohon rindang tempat lama ia mengadu luka   Maria tak tahan memeluk hening, Heni...

Antologi Puisi | Ell Wiwin

Ell Wiwin | Mahasiswa Semester VIII UNIPA Surabaya  PERIHAL RINDU Rindu adalah cambuk Menyiksaku dengan perlahan Diam-diam mengiris hati Sama seperti guntur, bergemuruh di hati Adakah hujan mampu menyejukkanku? Setelah ku pelihara teriknya cinta   KEHILANGAN Indah dan menawan semua hanyalah ilusi Sesaat kau tertawa riang Sekejap kau menghilang tanpa jejak yang kini hanya menyisakan kenangan   Angin timur bertiup lembut Mengalunkan melodi indah membekas ingatan Sejenak ku terlelap memandang mu yang jauh dikeabadian   JEJAK Ku langkahkan kaki perlahan lahan Semakin jauh aku berjalan Mataku terpaku menatap jauh   Aku melihat bintang yang berkilau Semakin tinggi angganku berharap Tak kusangka aku masih pada langkah yang sama   Dunia semakin luas melebihi yang kukira Semua wajah terpampang di angkasa Ada yang menangis ada yang tertawa Semuanya sangat bersinar terang   Tampak kakiku terpaku Se...

Antologi Puisi | Yanti Genggong

Yanti Genggong | Mahasiswa Semester 8  UKI St. Paulus Ruteng Sampai Pada Tanya, Di Mana Wajah Jelekku? Aku yang mencintaimu dengan tulus Bulan kedua ditahun ini, bulan kelahiranmu. Dan kau adalah gerimis-gerimis puitis di hati ini.   Hujan turun sepanjang Februari Aku yang selalu bercermin digenangan air di tepi jalan Melihat wajah dari segala sisi kecantikan,  aku tersenyum di sana dan aku mencoba menangis. Sampai pada tanya, di mana wajah jelekku?   Malam ini Aku merayu-rayuMu sebelum hari ini selesai Sebelum jendela, Sebelum pintu, Sebelum mata tertutup rapat-rapat, Hingga angin berhembus sepi, tubuhku didekap malam.    Senja Dan Diriku Aku mengayunkan parasmu dengan tulisan bertinta cahaya senja Membayang-bayang ragamu mendengar detak jantung ini Kalimatku untukmu hancur, coretan di mana-mana, Sebaiknya jangan kau tanya hati ini. Langit perlahan menuju lengan malam, aku tak mampu menjadi seperti yang kau mau...

Bungkam | Cerpen Melki Deni

  Melki Deni | Mahasiswa Semester VI STFK Ledalero Gadis itu membaca kembali obituari ibunya di kamar. Seorang karyawati tua menerka-nerka, seketika gadis itu masuk kamar mandi Pastor, mengambil obituari itu setiap sabtu sore. Gadis itu tidak patut dicurigakan, sementara obituari masih terpampang di kamar mandi Pastor. Gadis itu sudah menyalin teks-teks obituari tersebut. Tapi Pastor itu tidak pernah mencurigai gadis kecil, anak darahnya, dan obituari kekasih gelapnya itu, kecuali gunting kecil. Empat tahun kemudian, Pastor itu baru tahu. *** Gadis itu baru berumur enam belas tahun. Pastor mengadopsi dia sejak masih kecil dari seorang janda. Pastor menceritakan bahwa gadis itu merupakan hasil hubungan gelap seorang sopir angkutan kota dan penjaga toko di kota seberang. Karena prihatin dan kasih sayangnya, pastor mengadopsi dan membesarkan dia. Belasan tahun gadis itu tinggal bersama Pastor itu di beberapa paroki. Sejak kecil gadis itu merindukan sosok sang ayah seperti Pastor...