MARIA
Malam ini
malam hening paling gaduh,
Binatang Malam
dan penghuni langit bulan bersembunyi entah di balik mana.
Gelap seakan
liar mengecup sepi
Hempasan angin
berhenti dalam rindang daun kering,
Malam ini
malam hening paling gaduh,
Untuk gadis bernama
Maria,
Yang kini
berperang dengan kenangan
Memori ribut
dalam ingatan
Diputarnya
kisah tempo dulu
Cerita-cerita
jadul menampar duka
Maria,
Gadis
berpayung piluh,
Yang tak lekas
mau tinggalkan malam,
Melebur
bersama heningnya sepih
Walau Pikiran
mencabik diamnya
Di bawah gelap
dan sepinya malam,
Ditumpahkannya
duka yang tertelan lama di dada,
Pada hening
yang dibuatnya bising,
Dalam ributnya
kenangan lalu
Malam ini
malam hening paling gaduh,
Saat maria
merobek mimpi,
Dengan ikatan
temali yang mendarat pada lingkaran lehernya
di bawah pohon
rindang tempat lama ia mengadu luka
Maria tak
tahan memeluk hening,
Hening yang
gaduh untuknya,
Hening yang
membawanya pada perang ingatan
Hingga
diputuskannya waktu yang belum saatnya,
Maria mati,
dalam hening yang paling gaduh.
Malam ini. Di bawah gelapnya malam !
SELAMAT TINGGAL
Waktu
menyalami kita,
Pada ribut
panjang tak punya jeda
Pada Ikatan
yang tak mampu terus diikat
Pada kenangan
yang sudah saatnya ditelan lupa
Pada bibir
yang sudah keluh,
Pada lelah
yang telah habis,
Kau kecup
kenangan itu dengan salam selamat tinggal !
KITA
Adalah buih
embun yang jatuh pada daun yang kering,
Tertinggal dan
habis dihisap panas,
Dilupakan
langit,
Tak dikenal
tanah
Hilang tanpa
harus dicari
Adalah sebutir
pasir yang dibawa pergi
Lalu jatuh di
tengah Jalan
Diinjak hujan,
Dihantam terik
Lalu beku
menjadi batu
Kita,
adalah
kenangan yang akan dilupakan
Salah tempat
dan waktu Saat bertemu.
PERGI
Saat luka
terlalu dalam tertembus pada dinding hati,
Tangis Jatuh
mengunjungi pipih,
Suara bungkam
terhenti pada bibir diam
Dan pikiran
didesak resah melepas mimpi
Ketika luka
terlalu lelah digenggam,
Bisakah pinta
pamit diucapkan segera?
Walau melawan
ingin hati yang masih mau menetap,
Demi hati yang
tak mampu menampung yang lebih dari ini
Pada bibir
yang sudah keluh,
Pada Tubuh
yang lama gigil memeluk,
Kuhentikan
langkah,
Dengan mundur
perlahan,
Hingga
waktunya menyapa; Saatnya kita pergi !
PAULUS
Kadang Cinta
yang dalam harus mampu dirampas keluar,
agar tidak
lagi pedih menyayat hati yang perlahan habis dihancur luka.
Sudah
waktunya,
Kita hentikan
khayalan gila,
Dan Pamit
dengan semestinya.
Pergilah,
Gerbang ikhlas telah menantimu di ujung jalan.

Saya tidak mau menghentikan khayalan gila ini! 😁😁
BalasHapusKalau begitu teruslah berkhayal sampai benar2 menjadi gila🤚
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusMaria Chey, terima kasih puisi-puisimu ya. Bagus. Sukses selalu.
BalasHapusTerimakasih🙏 salam
HapusSebagai seseorang yang tahu perjalanan panjang si Maria sampai puisi ini beranak Pinak..hahaha saya ucapkan selamat berkarya Che 👍
BalasHapusOrang terdekat selalu menjadi motivator✊ Trimss sobat
HapusKeren, terus berkarya
BalasHapusMakasih adik dole😅✊
HapusMaka jangan mempersoalkan kesepian, kesendirian. Sebab dua hal itu punya hasil, bentuk yang kau sudah buat; puisi.
BalasHapusAbang heri kalau sudah masuk sy siap angkat topi🤝
HapusSalam pena tem✊
Mantap Chey teruslah berkarya.
BalasHapusTrimakasih🙏 Salaam🤝😊
Hapus